Opportunity Creation – Antonius Tanan
Salam Entrepreneur...
Mari kita bersama
sekarang belajar lebih jauh tentang peluang. Banyak orang menyamakan antara Ide
Bisnis dengan Peluang Bisnis. Menurut kami, sebenarnya berbeda. Kalau sekedar ide
bisnis, pergilah ke Mall. Kita akan menemukan begitu banyak ide bisnis. Kalau
di Mall itu ada 200 toko, ada 200 ide bisnis. Kalau kita pergi ke toko itu, ada
10.000 produk, kita bisa menemukan 10.000 ide bisnis. Tapi apakah ide bisnis
itu menjadi peluang bisnis kita? Belum tentu. Tidak selalu.
Jadi, apa itu peluang
bisnis? Lebih spesifik lagi, apa peluang bisnis untuk kita? Peluang bisnis
untuk kita apabila kita bisa menciptakan sebuah solusi dari masalah yang
dihadapi oleh pelanggan dan kemudian ketika solusi itu bisa kita kembangkan
pelanggan menerimanya dan sanggup membayarnya. Jadi, ada masalahnya, ada
solusinya dan ada kesanggupan untuk membayar dari pelanggan itu. Itu baru
peluang bisnis.
Nah, sudah punya
peluang bisnis pun belum tentu berhasil. Kenapa? Karena peluang bisnis harus
kita bungkus dengan bisnis model yang tepat, dengan bisnis strategi yang tepat
dan juga dengan bussines plan yang tepat. Barangkali sudah
ada bussines plannya. Barangkali sudah ada bisnis modelnya, juga
bisnis strateginya. Namun, dalam pelaksanaanya, bila tidak ada eksekusi yang
baik, bila tidak ada kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang muncul barang
kali tanpa bisa diantisipasi sebelumnya. Maka bisnis juga belum tentu bisa
diwujudkan.
Nah, oleh karena itu
belajar Entrepreneurship adalah belajar sesuatu yang lebih kompleks. Bukan
hanya sesuatu yang ada di pikiran kita, sesuatu yang kita bisa hafal secara
pengetahuan. Tetapi harus kita pahami, harus bisa kita kreatifkan, inovasikan,
dan kemudian setelah itu punya kemampuan melakukannya. Di dalam pelaksanaan
Entrepreneurship, sangat penting kemampuan untuk mengarahkan tim, kemampuan
untuk memotivasi tim, atau kalau saya sederhanakan kemampuan dalam kepemimpinan
selain tentunya kemampuan berkomunikasi, bernegosiasi dan berjejaring juga
sangat penting.
Kalau kita melihat apa
yang literatur, katakan tentang peluang itu sendiri, saya ingin mengutip apa
yang dikatakan oleh Profesor Kuratko.
Profersor Kuratko adalah seorang Profesor dari Amerika Serikat dalam bidang
Entrepreneurship. Dia mengatakan seperti ini, “An Opportunity is something
that an Entrepreneur recognize as solving the real problem or adding value”.
Ya, jadi ada masalah yang harus bisa diselesaikan. Harus ada solusi yang
kreatif. Bukan sekedar ikut orang lain untuk mengambil suatu Opportunity harus
bisa didefinisikan dengan jelas.
Nah, kalau kita bisa
simpulkan, jadi apa bedanya antara ide bisnis dengan peluang bisnis? Menurut
hemat kami, ide bisnis bisa disebut peluang bisnis apabila bisa menjawab tujuh
pertanyaan ini.
Pertanyaan yang
pertama, apakah ini menyelesaikan
masalah bagi pelanggan? Pelanggan punya masalah apa? Apakah yang saya
sedang rencanakan ini menyelesaikan suatu masalah? Apakah masalah ini penting
bagi pelanggan? Kalau penting bagi pelanggan, berarti keinginiannya dia untuk
mendapatkan produknya akan lebih tinggi. Pertanyaan pertama ini tadi, apakah
ini menyelesaikan masalah?
Yang kedua, apakah pelangan mau berkorban untuk
mendapatkan produk ini? Betul, pelanggan memiliki masalah. Tetapi kalau
pelanggannya tidak mau berkorban, atau tidak mau mengeluarkan uangnya untuk
membeli solusi itu, itu bukan peluang namanya. Baiklah kita bertanya sebelum
kita memulai usaha bisnis kita. Apakah pelanggan mau berkorban mengeluarkan
uangnya dan mengambil, membeli solusi bisnis yang saya tawarkan?
Yang ketiga, apakah
ada nilai tambah lain sehingga pelanggan tidak sanggup bilang tidak? Nah, ini
penting. Pak Ciputra mengajarkan penting sekali berinovasi dalam berbagai aspek
bisnis. Lakukan inovasi dalam berbagai
fungsi bisnis sedemikian rupa sehingga pelanggan tidak sanggup bilang tidak.
Kalau pelanggan masih bilang tidak, itu artinya inovasi belum selesai.
Pertanyaan keempat, apakah saya sanggup menciptakan jarak
dengan pesaing? Ini adalah antisipasi dalam persaingan. Ketika kita membuka
usaha kita dengan membesarkan usaha, jangan lupa banyak orang yang melihat, dan
barangkali akan mengkopi. Sudahkah kita menyiapkan diri dengan berbagai inovasi
yang lain sehingga persaingan tiba, kita sudah siap. Atau kita membuat produk kita
sedemikian rupa, usaha kita sedemikian rupa, menciptakan jarak yang jauh dengan
pesaing yang baru masuk. Kalau jaraknya jauh, anda bisa berlari lebih dulu dan
lebih cepat.
Kelima, apakah akan memberikan manfaat untuk
masyarakat? Jangan lupa, peluang bisnis bukan hanya sekedar bermanfaat
untuk si Entrepreneur, untuk pelanggan, tapi juga harus bermanfaat untuk
mayarakat. Entrepreneurship sejati tidak akan mengeluarkan produk atau jasa
yang akan merusak masyarakat.
Yang keenam, seberapa besar market sizenya
dan seberapa besar yang dapat diambil? Ini penting UC Onliners. Kenapa?
Sebab, Entrepreneur harus berhitung. Angka tidak pernah bohong. Dia harus bisa menghitung, ini nilainya
berapa market sizenya dan berapa banyak yang bisa
diraih oleh dia? Tanpa pemahaman tentang market size,
akan berbahaya. Jangan-jangan marketnya tidak besar? Dan ketika dia
masuk, dia kaget tidak banyak yang
membeli. Jangan lupa gunakan angka. Angka
tidak pernah bohong.
Dan yang terakhir,
apakah saya sudah melakukan verifikasi? Setiap asumsi-asumsi atau pemikiran,
ataupun hasil inovasi yang ada di kepala kita harus diverifikasi di pasar.
Artinya apa? Luangkan waktu bertemu dengan pelanggan yang kita pikir merekalah
yang akan membutuhkan produk kita. Bicarakan ide anda dengan mereka. Tanya
pendapat mereka. Sampaikan gagasan anda. Verifikasi semua konsep yang ada di
kepala anda. Dan dengarkan pendapat mereka. Kalo mereka mengatakan, “Wah, betul
ini yang kami butuhkan”. Artinya, anda sudah selesai melakukan verifikasi. Dan
anda baru saja merubah sebuah ide bisnis menjadi sebuah peluang bisnis.
Saya teringat sekitar
tujuh atau delapan tahun yang lalu, saya menyiapkan konsep Entrepreneurship
Ciputra Way. Saya mendiskusikan dengan Pak Ciputra. Saya menyampaikan kepada
beliau, “Pak Ciputra, seorang Entrepreneur itu dari riset yang saya lakukan,
itu melakukan tiga hal. Yang pertama adalah Opportunity Seeking atau
mencari peluang. Yang kedua, Innovation atau berinovasi. Dan
yang ketiga, Calculated Risk Takingatau mengambil resiko yang
terukur”. Waktu saya sampaikan pada Pak Ciputra tentang tiga hal ini, Pak
Ciputra berpikir, lalu kemudian dia mengatakan suatu kalimat yang merupakan
suatu pencerahan untuk saya. Dia mengatakan begini, “Antonius, jangan
tulis OpportunitySeeking. Kamu harus tulis Opportunity Creation”. Opportunity/
peluang jangan dicari, tetapi harus
diciptakan. Wah, ini sungguh-sungguh pencerahan buat saya. Saya terkesima, dan
kemudian saya mencari literatur dan berpikir “Apa artinya ini?” . Nah, setelah
melalui berbagai buku yang saya coba saya baca dan saya pikirkan. Saya ingin
menjelaskan kepada UC Onliners apa yang dimaksud Pak Ciputa sebagai Opportunity Creation atau
peluang yang diciptakan?
Mari kita lihat matrik
berikut ini. Kalau anda melihat matrik yang ada di sebelah kanan saya, di situ
ada bagian demand atau permintaan, dan ada bagian supply.
Ada permintaan yang sudah jelas. Ada permintaan yang belum jelas. Ada pasokan
atau supply yang sudah jelas, dan ada pasokan yang belum
jelas. Ketika peluang didapat karena ada permintaan atauDemand yang
tidak terpenuhi, padahal pasokannya sudah ada, kami menyebutnya sebagaiOpportunity Recognizion.
Bahwa, peluang dikenali. Saya ambil contoh. Suatu kali
anda pergi ke dalam Mall. Anda mencari gado-gado. Anda datang ke food
court, lalu anda cari gado-gado. Ternyata habis. Anda cari resto yang lain,
gado-gado juga habis. Anda cari resto yang lain di dalam Mall itu. Antriannya
panjang. Kalau anda sensitif dalam peluang, langsung “tuing..”. “Wah, kalo buka
usaha di Mall ini, buka gado-gado”. Kenapa? Yang dicari sudah jelas, yang nyari pun
sudah jelas. Jadi, Demand sudah jelas, Supply juga
sudah jelas. Nah, itu Opportunity Recognizion.
Yang kedua, Opportunity Seeking. Opportunity Seeking adalah
barangya sudah ada, tapi ini siapa yang butuh kita belum
tahu. Ini kadang-kadang kita mendapat barang dari teman, mendapat barang dari
luar negeri dibawa kemari. Nah, jualnya bagaimana? Sebab apa yang dibutuhkan di
luar negeri belum tentu di sini. Kita harus berpikir. Siapa yang membutuhkan?
Yang dicari di suatu daerah belum tentu itu dicari di daerah yang lain. Kita
harus berpikir, itu yang namanya Opportunity
Seeking atau mencari peluang.
Yang ketiga,
persoalannya sudah jelas, tetapi barangnya belum jelas. Artinya, permintaan
jelas sudah ada. Kalo ada barangnya, orang akan mencari, jarang akan
membelinya. Tapi, belum ada pasokannya. Contoh, kita semua membutuhkan bahan
bakar yang lebih murah. Kita semua membutuhkan obat. Obat kanker yang lebih
murah. Tapi belum ada sekarang. Barang siapa yang menemukan ide dan
megembangkannya jadi bisnis, akan jadi konglomerat yang baru. Nah, cara ini
disebut oleh kami di sini Opportunity Discovery.
Mendiscover sebuah peluang. Caranya tentu lewat penelitian, lewat lab, dan
inovasi dipentingkan di sana.
Yang keempat, inilah
yang dimaksudkan oleh Pak Ciputra,
pasokannya belum pernah ada. Bahkan pelanggannya pun belum ada. Belum
meminta pelanggannya. Tetapi sang Entrepreneur mendapatkan inspirasi. Bukan
sekedar inspirasi, tetapi mulai pemahaman yang mendalam tentang kebutuhan
pelanggan. Setelah dia memikirkannya, dia menemukan suatu gagasan yang belum
ada contohnya. Bahkan, pelanggan belum merasakannya sebuah kebutuhan. Namun,
ketika dia luncurkan, pelanggan tidak bisa bilang tidak. Kami menyebutnya,
inilah ban hitamnya Entrepreneur. Peluang di tangan Entrepreneur yang ban
hitam, tidak sekedar di cek lagi, tetapi diciptakan. Dan ketika dia mencipta,
dan itu berhasil meyakinkan pelanggan, pelanggan tidak bisa bilang tidak.
Contoh, barangkali iPad. iPad dalam 28 hari satu juta orang membeli. Tidak
tahan untuk mendapatkannya. Orang antri untuk mendapatkannya. Dan i-Pad akan
meredefinisi cara kita berkomunikasi, cara kita membaca buku, cara kita
berjejaring dan lain-lain. Ini sebuah produk yang tidak pernah kita bayangkan
sebelumnya dan membuat pelanggannya bisa berbondong-bondong untuk membelinya.
Untuk mendapatkannya.
UC Onliners, inilah
penjelasan kami tentang peluang dan sangat peting memahami peluang yang
diciptakan atau Opportunity Creation. Ini pasti tidak
gampang. Tapi kita bisa berlatih untuk terus menerus bagaimana berpikir dengan
kreatif dan kemudian menciptakan peluang.
Demikian penjelasan
tentang peluang atau Opportunity untuk penciptaan bisnis.
Semoga bermanfaat untuk anda semua UC Onliners.
Saya Antonius Tanan
dari Universitas Ciputra dan..
Salam Entrepreneur.